Thursday, 21 July 2011
Keris dan Piramid di dasar laut Okinawa Jepun
Artikel Oleh :SS
Sebenarnya sudah lama dunia tahu berkaitan dengan penemuan sebilah keris purba di sebuah kuil purba “Enkakuji Temple”di dasar lautan Pulau Okinawa Jepun.Dunia juga sudah lama tahu tentang penemuan sebuah piramid di dasar lautan Okinawa.Sudah sekian lama juga dunia tahu gambar ukiran keris telah diabadikan di dinding Candi Borobudur yang diberi nama Kujang itu!
Cuba lihat laporan akhbar The Star bertarikh 26.6.2003 di bawah berkaitan keris purba tersebut yang ditemui di Okinawa, Jepun itu:
The Star : By : Devid Rajah, OKINAWA:
An ancient blade of a keris found recently at the royal Enkakuji Temple grounds near the 15th century Shurijo Castle might unravel the ties the Malay world had with these southwestern islands of Japan. As the war-ravaged Enkakuji Temple was being restored, construction workers stumbled upon a protruding porcelain pot handle at a spot where offerings were made to the gods. The ensuing archaeological dig unearthed nine other items, including the wavy blade of a keris, foreign to this part of the world.
The blade measuring 22.1cm from the tip to hilt was found without the handle and sheath, as the wooden parts had been destroyed. According to the Okinawa Prefecture Archaeological Centre officials the blade was found buried along with other items, including a clay plate with carvings of a dragon shaped boat, a glazed pot, a gold-plated door hinge and a metal door skirting. The castle restoration work started in 1989 and the Shurijo Park was opened to public in 1992 while restoration work at the temple is still ongoing.
Prof Dr Kurayoshi Takara a historian from the University of The Ryukyus said the discovery had not been publicised much and is unknown to people outside Okinawa and Japan. He believes the discovery of the blade of a keris would spark international interest among historians and archaeologists to determine its origin. “I personally believe it could have been from Malacca because the Ryukyus Kingdom had started trading with Malacca in the 15th century,” said Prof Takara, who has been to Malaysia and Malacca to carry out research on the ancient ties the Kingdom of Ryukyus had with Southeast Asian kingdoms.
From historical records, Prof Takara said, the Ryukyus had started trading with Siam (Thailand), between 1425 and 1570, Malacca (1463-1511), Patani (Southern Thailand) (1490-1543) and several other areas in Indonesia (Palembang, Java and Sumatra) and Cambodia. “Records also indicate Ryukyuan junks went to Malacca every year for 49 years and carried out trade with local merchants, Arabs and Indians.
“They would bring gold, silver, copper, tin, and Chinese ceramic from mainland Japan and China and trade them for ivory and wine,” he said, adding that there were also correspondence between the rulers of Malacca and Ryuyukus. Malacca was also known for its high quality wine (believed to be nipah wine), but later years Ryukyuans started buying it from Thailand when Malacca stopped making it.
Bila sebut saja Keris, maka tergambarlah kepada kita tentang kehebatan keris Taming Sari milik Hang Tuah yang digunakan untuk membunuh sahabat sejatinya Hang Jebat.Misteri yang menyelubungi kisah keris Taming Sari ini terus menghantui kita sepanjang sejarah hingga ke hari ini.Benarkah keris Taming Sari itu telah dicampakkan ke dalam Sungai Duyong Melaka oleh Hang Tuah atau benarkah keris itu dipulangkan oleh Hang Tuah kepada Tun Mamat lalu Tun Mamat mempersembahkannya kembali kepada Sultan Melaka,juga menjadi persoalan sepanjang sejarah.
Berkenaan dengan Keris Taming Sari itu boleh di baca serba sedikit di dalam artikel di bawah :
THE LEGEND OF THE KERIS TAMING SARI
Legend had it that the mystical keris Taming Sari could fly and seek out the enemy, just like modern missiles. Not only that but it would even rattle in its sheath to warn its owner of potential danger.
In the 15th. Century, when he wanted to ask for the hand in marriage of Majapahit princess Raden Galoh Chandra Kirana, Sultan Mansur Shah traveled to Java with his royal bodyguard, Hang Tuah. Unfortunately, Hang Tuah, instead of the Sultan, became the center of attention there.This was the opportunity that Pateh Gajah Mada had been waiting for to oust Hang Tuah permanently from the Sultan’s favourite list.
The envious palace official engaged a Javanese warrior, Taming Sari, to kill Hang Tuah but the tables turned and Hang Tuah won the fight as well as Taming Sari’s keris (also named Taming Sari). Thus began the legendary saga of Malaysia’s most celebrated dagger.
Taming Sari, classified as keris kuasa or bawar, is made of an alloy of 20 metal composites, some said to come from bolts holding Mecca’s Holy Kaabah gates. A keris kuasa is said to poses supernatural powers and has to be “cleansed” in the melimau ceremony periodically to retain its potency. When he could not persuade Puteri Gunung Ledang to marry Sultan Mahmud, Hang Tuah threw the Taming Sari into Sungai Duyong out of frustration.
One legend said that if the Taming Sari surfaced up Sungai Duyong, Melaka will be famous again Another legend said that Tun Mamat did history a favour when he recovered the Taming Sari for the Sultan’s safekeeping.
In 1511, the Portuguese conquered Malacca and Sultan Mahmud fled to Johor-Riau and later to Kampar in Sumatra. Taming Sari finally found a permanent home in Perak as part of its state regalia when Sultan Mahmud’s son, Sultan Muzaffar Shah 1, was installed as the first Sultan of Perak and the keris was passed on to his successors till present day.
Footnote: The keris is a weapon peculiar to the Malay Archipelago which encompasses Thailand’s Pattani region, Malaysia, Indonesia, the Philippines’ Mindanao region and certain parts of Cambodia. Historians believe the first keris was developed in 9th. Century and perfected by 14th. Century. In Aceh, the keris is call rencong and Sulawesi, badik.
The keris is surrounded by mystery and there are tales of deaths being caused by simply thrusting the keris into a victim’s footprints. Sculptures of keris, dating back more than 400 years have been found in Central Java’s Chandi Borobudur where it is known as kujang.
Jika dilihat kepada kukuh dan utuhnya besi keris purba yang dijumpai setelah terendam ratusan atau mungkin ribuan tahun di dasar lautan itu seperti dalam gambar di atas,dapatlah kita simpulkan bahawa keris itu bukanlah sembarangan keris.Kalau tidak masakan ia masih dalam keadaan baik,tidak berkarat atau sudah hancur lebur dalam air laut masin itu!
Teliti baik-baik keris di atas, ia ber-luk sembilan, sudah tentu ia adalah sebilah keris kebesaran! Kalau keris untuk bertikam sudah tentu keris itu ber-luk tujuh.Biasanya orang besar dulu-dulu seperti sultan atau pembesar negeri selalu membawa dua bilah keris- satu untuk bertikam atau melindungi diri dan satu lagi untuk menunjukkan pangkat kebesaran mereka.Keris ber-luk tujuh diselit di pinggang,manakala yang ber-luk sembilan dibawa di tangan atau diusung dengan penuh kehormatan mengiringi perjalanan mereka!lihat majlis pertabalan raja-raja di Negara kita!
Saya tidak pasti keris Taming Sari itu ber-luk tujuh atau ber-luk sembilan.Mungkin para pembaca semua boleh menolong saya dengan memberi komen disini.
Manusia dan besi tidak boleh dipisahkan.Allah telah menurunkan satu surah di dalam Al-Qur an khas berkaitan dengan besi iaitu Surah al- Hadid (besi).Besi adalah kurniaan Allah yang merupakan pokok kekuatan untuk membela agama Allah dan memenuhi keperluan hidup manusia.
“..Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia,(supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong(agama)Nya dan rasul-rasulNya padahal Allah tidak dilihatnya.Sesungguhnya Allah maha kuat lagi maha Perkasa”
(Surah Al-hadid, ayat 25.)
Sejarah meriwayatkan Nabi Daud a.s telah diberi mukjizat oleh Allah swt berupa kemahiran pertukangan besi ,membuat baju besi dan senjata .Besi juga boleh menjadi cair di tangan baginda!Mungkin baginda juga mahir dalam teknik yang dikenali dewasa ini sebagai teknik Orichalcum iaitu mencampurkan alloy kedalam campuran besi untuk membentuk besi teguh .
'Orichalcum' merupakan istilah latin untuk peleburan logam(pencampuran pelbagai logam untuk menghasilkan logam yg sgt keras & utuh (contohnya alloy,krom dan sebagainya).Mengikut teknik terkini, campuran logam tersebut harus dibuat oleh ahli yang pakar dalam bidang kimia di mana juzuk-juzuk atau jenis-juzuk besi yang hendak dicampur mestilah sesuai. Jika tidak, besi yang dicampur itu akan rapuh , hancur dan tidak tahan lama.
Contoh besi yang terhasil dari teknik ini ialah keris picit atau lebih dikenali dengan “Jawa Picit” menghasilkan besi campuran alloy keris yang biasanya berwarna hitam,keras dan mampu bertahan hingga ribuan tahun.Jika di teliti betul-betul jawa picit yang asli,kita boleh melihat bekas-bekas urat jari tangan si empu keris melekat di keris yang ditempa oleh mereka.Ada juga pendapat yang mengatakan jawa picit dihasilkan ketika seseorang melakukan upacara bertapa.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment